Lika liku persahabatan
Penghianatan Seorang Sahabat membuatku sempat tak percaya akan hadirnya makna seorang ”sahabat” dalam sejarahku. Hal ini bermula ketika seseorang yang bagiku dialah satu2nya yang ’kan menjadi sahabatku di dunia maupun di surga. Saat SD tepatnya saat masuk kelas 5, ada seorang gadis kecil, manis, rambutnya terurai panjang, datang k SD kami ( SDN 80, dulunya ) sekarang SDN 55 Pangkalpinang untuk melanjutkan sekolahnya ( Krn dia pindahan dari SD Koba ). Hari berganti hari kamipun berteman dekat, bahkan bisa dibilang akrab, karena di sekolah setiap ”ada aku pasti ada dia” ( kecuali salah satu dari kami sakit atau berhalangan masuk )…persahabatn ini pun berlangsung hingga kelas 6.
Kelulusan pun menjemput, dan kami berdua mendaftar ke SMP yang sama dan Alhamdulillah kami berdua diterima di sekolah itu ( SMPN 3 ). Saat pembagian kelas, entah kebetulan atau ”takdir” kami berdua masuk dikelas yang sama pula ( 1B ), perihal kamipun duduk sebangku. Seneeeeng banget kami bisa terus bersama. Hari berganti hari, kamipun dikenal temen2 lainnya sebagai sepasang sahabat.
Namun saat semester 2, kelakuannya mulai berbeda dari sebelumnya. Dia lebih terliahat centil, dan suka dandan ( hal itu bisa kumaklumi untuk seusia kami itu dah bisa dibilang lumrah ) namun ntah kenapa hal itu juga membuat risih temen2 sekelas kami ( krn dia sering memakai wangian yang menyengat saat jam pelajaran ). Kata2 yang gak enak dindengar tentang dia ( nama gk plu disebutkan ) pun mulai terasa panas ditelingaku, beragam persepsi tentang sifat dia lah, ah!!! Q sebagai sahabatnya mencoba untuk membela, dan tentunya memberi dia saran secara perlahan tentang apa yang harusnya dia lakukan agar masalah ini teratasi.
Namun mungkin saran itupun gak berpengaruh dan saat itu ku ngerasa sifatku dah mulai beda ma dia, tapi tetep kupertahankan. Suatu hari ada anak baru lagi yang masuk ke sekolah kami, cantik, imut dan ramah, tapi dia masuk dikelas yang berbeda dari kami ( 1A ),hari semakin berlalu, gak tau kenapa kayaknya sahabatku itu mulai menjauh dariku dan sering terlihat bercengkrama dengan si anak baru. Rasa cemburu ku pun mulai terasa….sedih banget rasanya diduain dan waktu terus berlalu dia benar2 telah jauh dariku, tanpa alasan dia mulai menciptakan jarak antara kami. Saat itu hatiku sesak, sakit, benci,..ku sempet ngerasa si anak baru itu yang merebutnya dariku. Namun mungkin malah sahabatku itu yang lebih memilih si anak baru untuk menjadi sahabat barunya.
Naik ke kelas 2 kami mendapat kelas yang sama lagi, namun mulai dari itu kami bagaikan orang yang gak pernah kenal bahkan saat ini ku gak mau lagi kenal ma dia. Duduk kami pun berjauhan. Tingkahnya semakin menjadi, kecentilannya membuat kami risih terutama untuk kaum hawa. Tak juga karena kecentilannya namun dia terkenal dengan ”pelit” nya pada pelajaran, hingga tak hanya kaum hawa saja yang risih namun kaum adam juga ngerasa demikian. 1 tahun berlalu kami hanya bertegur sapa saat ada keperluan yang penting itupun kulakukan dengan berat hati.krn jujur sakitnya dikhianati masih terasa…sahabatku telah hilang, sahabatku telah berubah menjadi musuh yang paling menyakitkan.
Perlahan kuhilangkan rasa sakit itu dengan beberapa bantuan teman yang muali mengisi hari2 ku dengan penuh kegembiraan, mereka adalah Silvi, Erin dan Susan. Tawa, canda, kegialaan kami lakukan bersama, namun ku tak mau berharap lagi mereka akan membuat ku punya ”sahabat” lagi. Saat dikhianati ku tak percaya akan adanya sahabat didunia ini….TIDAK!!! makna sahabat bagiku gak ada artinya…percuma membentuk sebuah persahabatan yang akhirnya akan menciptakan sebuah penghianatan dan MUSUH.
Meski demikian pertemanan kami ber-4 tetap kujalani, dan lama kelamaan, aku merasa nyaman bersama mereka, mereka selalu ada, kenangan manis saat ku bersama dia pun terasa kembali, yang akhirnya membuat ku teringat pula dengan kepahitan itu.
Mungkin tak mungkin bila ku tlah mengakui mereka ( Silvi, Erin & Susan ) sebagai sahabatku, namun hati tak sanggup berdusta. Perlahan dengan harapan tanpa penghianatan ku mencoba membuka hati untuk mengakui itu semua. Walaupun sempat persahabatn kami dikacaukan oleh si dia, saat ku berusaha untuk menerimanya( mantan sahabatku ) kembali. Saat itu terjadi kesalahpahaman antara kami, yang telah mengeluarkan air mata( terutama ku n Silvi ). Namun pada akhirnya ku sadar ku tak bisa kehilangan mereka ber-3. Dan si dia telah lama menjadi kenangan yang harus kulupakan ( meski sulit ).Saat itu pula aku merasakan getaran makna sahabat muncul kembali. Dan ku harap tak kan pernah ada penghianatan lagi.
Saat ini, raga kami memang telah berpencar untuk melanjutkan hidupnya masing2, namun kehadiran mereka tetap kurasakan di sini, di hati.selamanya……..miz u all.
Agustina
Dwi
Erina
Silvia


lah kok cuman begini aja…pakai more dong Yuens